Gambar dibawah ini adalah hasil visualisasi dari jaringan hubungan pertemanan dari facebook saya Nur Arif Munadie.
Gambar diatas menunjukkan hubungan saya dengan sekitar 200 teman sewaktu smp yang mana hampir semuanya menyatu dan tidak membuat kelompok-kelompok tertentu. Jaringan sebelah kiri bawah adalah jaringan hubungan keluarga yang pada saat itu memakai facebook.
Pada saat itu?
Pada saat itu...30 Mei 2011 adalah tanggal post terakhir dari akun facebook yang saya miliki. Ya...hampir 7 tahun saya tidak membuat status apapun atau menambahkan satu temanpun.
Saya adalah orang yang jarang bermain sosial media. Bahkan jika anda melihat sosial media lain yang saya miliki, keaktifannya akan lebih ‘parah’ lagi.
Terkecuali untuk chat messenger LINE yang saat ini sangat aktif saya gunakan. Dengan lebih dari 1000 teman dan lebih dari 120 grup didalamnya. Saya menggunakan LINE terutama untuk membantu berbagai aktivitas keseharian, seperti pengerjaan tugas, atau mencari informasi terbaru kampus.
Tetapi untuk line messenger sendiri, sampai saat ini dalam pencarian tools visualisasi yang saya lakukan, saya tidak menemukan satupun tool khusus atau tutorial untuk mem-visualisasikan hubungan jaringan pertemanan dari LINE messenger.
Maka dari itu yang saya pilih untuk divisualisasikan dan dianalisis hubungan jaringan pertemanan terhadap kesuksesan dari sosial media-nya adalah akun facebook.
Apakah dengan Sedikitnya jaringan pertemanan dan sedikitnya pengelompokan di sosial media menunjukan jaringan tersebut tidak dapat dianalisis untuk melihat hubungannya terhadap kesuksesan?
Awalnya saya berpikir iya, dan awalnya saya akan menggunakan jaringan kedua orang tua saya sebagai hub untuk di analisis hubungannya dengan faktor kesuksesannya saya, dikarenakan kedua orang tua saya cukup aktif dalam menggunakan facebook, bapak saya adalah sarjana hukum yang kenal banyak orang hukum dan juga kenal banyak orang yang berpengaruh dalam bidang politik.
Ibu saya adalah sarjana ekonomi yang juga banyak mengenal orang dalam bidang yang sama yaitu ekonomi.
Tetapi akhirnya saya mengurungkan niat untuk menggunakan jaringan kedua orang tua dan mencoba untuk melihat faktor kesuksesan saya dari sisi lain.
Bagaimana jika sedikitnya jaringan, pengelompokan, dan keaktifan sosial media yang saya miliki malah justru menjadi faktor kunci bagi kesuksesan saya...
Ternyata hal tersebut adalah hal yang benar, saya cukup terkejut ketika saya menggunakan keyword pencarian 'success without social media'. Dari hasil pencarian keyword tersebut, saya mendapatkan banyak artikel yang memuat bahwasanya seseorang dapat sukses jika tidak menggunakan sosial media. Hal ini cukup mencengangkan dimana pada zaman sekarang banyak sekali dorongan-dorongan dari berbagai pihak yang menyatakan bahwa sosial media adalah hal yang sangat penting bagi seseorang terutama yang bergelut dibidang bisnis untuk dapat berhasil dan survive. Contoh artikel yang paling menarik menurut saya adalah artikel dari Alyza Salzberg yang berjudul "Maybe You Don’t Need Social Media to be Successful". Alysa dalam artikel tersebut menceritakan tentang keputusannya untuk menjadi seorang freelancer writer, copy editor, tutor, dan travel planner tanpa menggunakan sosial media apapun untuk memasarkan jasanya tetapi, usahanya masih tetap dapat berjalan dengan lancar. Alyza juga memasukan data yang dia dapat dari laporan USA today yang mengungkapkan 61% bisnis kecil tidak mendapatkan keuntungan dari investasi yang mereka lakukan untuk aktivitas sosial media. Bahkan dalam bisnis besar sekalipun terdapat perusahaan-perusahaan yang terbukti berhasil tanpa menggunakan sosial media sama sekali contohnya seperti perushaan pengembang iphone yaitu apple. Contoh lain yang Alyza berikan adalah Mike Smith dari Guirella Freelancing. Ketika Mike berhenti menggunakan twitter dia menyadari bahwa banyak waktu yang dia gunakan untuk meng-update twitternya, merespon re-tweet, memotong waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja.
Mungkin sosial media dapat berhasil bagi sebagian orang untuk membantu dirinya sukses. Tetapi sosial media bukan satu-satunya cara dan bukan media yang paling efektif dan efisien bagi sebagian orang. Ada banyak media lain yang dapat digunakan contohnya seperti dalam artikel berjudul
"6 Ways to Have Success Without Social Media" Yang memuat 6 contoh sukses tanpa sosial media.
Pada artikel sebelumnya, saya juga telah menjelaskan tentang berkurangnya privasi seseorang karena segala kegiatan yang berhubungan dengan data pasti akan meninggalkan jejak, hal ini menjadikan kelebihan saya sebagai seseorang yang jarang menggunakan sosial media sehingga jejak yang saya tinggalkan juga sedikit.
Kesimpulan dari hubungan jaringan pertemanan dalam sosial media terhadap kesuksesan dari analisis kali ini adalah, bahwasanya hubungan dalam sosial media bukanlah segalanya, Faktor pendorong kesusesan saya adalah dengan jarang menggunakan sosial media itu sendiri.

Komentar
Posting Komentar